banner ads banner ads banner ads banner ads
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Oktober 2012

Pengakuan Anwar Congo, Algojo di Masa PKI 1965


Untuk pertama kalinya dalam sejarah film Indonesia, sebuah film dokumenter menampilkan pengakuan seorang algojo PKI. Namanya Anwar Congo. Ia preman bioskop Medan. Dalam film The Act of Killing yang dibesut sutradara Joshua Oppenheimer itu, ia memperagakan ulang kekerasan-kekerasan yang pernah dilakukannya. 
Film itu menampilkan kesadaran Anwar tentang bagaimana menjadi seorang pembunuh dan bagaimana seandainya menjadi korban yang dibunuh. Saat The Act of Killing diputar di Festival Film Toronto, pers Barat menyebut film itu mengerikan dan mengguncang batin. Itu karena Anwar tampak bangga dengan tindakannya. Bisakah film ini mengubah cara pandang masyarakat Indonesia tentang sejarah kelam 1965? Laporan utama majalah Tempo edisi 1 Oktober 2011 berjudul "Pengakuan Algojo 1965"mengungkap hal tersebut.
Pembawaannya riang. Ia dikenal jago dansa. Penggemar Elvis Presley dan James Dean itu mengatakan sering membunuh sembari menari cha-cha. "Saya menghabisi orang PKI dengan gembira," katanya. Dalam sebuah adegan, bersama rekannya sesama algojo 1965, ia terlihat naik mobil terbuka menyusuri jalan-jalan di Medan. Mereka bernostalgia ke tempat-tempat mereka pernah membunuh di antaranya sepotong jalan tempat ia menyembelih banyak warga keturunan Tionghoa. "Setiap ketemu Cina, langsung saya tikam…."
Pengakuan "jujur" preman bernama Anwar Congo dalam film yang bakal ditayangkan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia di Jakarta pada Oktober tahun ini tersebut bisa membuat siapa saja terperangah. Ada heroisme di situ. Anwar mengesankan dirinya penyelamat bangsa. Satu versi menyebutkan hampir satu juta orang PKI terbunuh pasca-1965. Ini pelanggaran hak asasi berat. Anwar hanyalah salah satu pelaku pembunuhan. Di berbagai daerah, masih banyak "Anwar" lain.
Tempo kali ini mencoba melihat peristiwa 1965 dari perspektif para algojo. Tak ada niat kami membuka aib atau menyudutkan para pelaku. Politik Indonesia pada masa itu sangat kompleks. Menjelang tragedi September, konflik PKI dan partai politik lain memanas. PKI, yang merasa di atas angin, menekan penduduk yang tidak sealiran. Ketika keadaan berbalik, luapan pembalasan tak terkendali. Pembunuhan direstui oleh sesepuh masyarakat dan tokoh agama. Masa 1965-1966 tak bisa dinilai dengan norma dan nilai-nilai masa kini. Membaca sejarah kelam Indonesia pada masa itu hanya dapat dilakukan dengan memperhatikan konteks sosial-politik-ekonomi pada masa itu pula.
Tapi kita juga tahu betapa tak simetris informasi tentang tragedi 1965. Saat itu, semua koran dikuasai militer. Masyarakat dicekoki cerita bahwa komunis adalah musuh negara yang identik dengan ateisme. Militer menyebarkan daftar anggota PKI yang harus dihabisi. Militer melindungi para pelaku, bahkan menyuplai mereka dengan senjata. Di beberapa tempat, ada narapidana yang sengaja dilepaskan untuk memburu "sang musuh negara". Itu membuat para algojo menganggap wajar tindakan mereka.
Sejarah berulang: di sini dan di tempat lain. Di Israel, pernah seorang aparat kamp konsentrasi Nazi bernama Adolph Eichmann diadili. Ia pelaku pembantaian ratusan orang Yahudi. Ia merasa tak bersalah karena menganggap itu tugas negara. Filsuf Jerman, Hannah Arendt, yang mengamati sidang itu pada 1963, menulis buku terkenal Eichmann in Jerusalem: A Report of the Banality of Evil. Arendt melihat para eksekutor seperti Eichmann bukan pengidap skizofrenia atau psikopat, melainkan warga biasa yang menganggap wajar tindakannya karena dibenarkan negara. Arendt menyebut fenomena ini sebagai kedangkalan yang akut.
Seorang algojo menyatakan moralitas itu sesuatu yang relatif. Pembunuhan memang dilarang, tapi harus dilakukan untuk menyelamatkan bangsa dan agama. Ada pula yang diam-diam menyadari kesalahannya. Anwar, yang dalam film terlihat brutal, mengalami pergolakan batin tentang apa yang diperbuatnya. Menurut Oppenheimer, sang sutradara, sepanjang pembuatan film, Anwar ada kalanya seperti menyesali perbuatannya. Rasa heroik dan bersalah bersitegang di dalam diri mantan algojo. Seorang mantan jagal harus dipasung keluarganya karena, bila mengingat-ingat pembunuhan yang dilakukannya, ia ke luar rumah mengayun-ayunkan parang dan celurit.

Read more »

Jumat, 14 September 2012

Menyusuri Jejak Sang Proklamator di Rengasdengklok

Rumah yang terletak di Dusun Kalijaya, Desa Rengasdengklok, Karawang, itu tampak begitu sederhana. Dindingnya hanya terbuat dari kayu bercat putih dengan pekarangan yang dibatasi pagar bambu. 
Pemandangannya benar-benar seperti rumah-rumah di kampung pinggiran. (Hairun Fahrudin)
Halamannya yang tak terlalu luas ditumbuhi pohon rindang yang membuat sejuk suasana. Di muka rumah, ada sebuah warung kecil tempat beberapa orang duduk dengan santainya. Pemandangannya benar-benar seperti rumah-rumah di kampung pinggiran.

Tapi siapa sangka, di balik penampilannya yang sangat sederhana, rumah itu menyimpan sejarah besar. Ya, di situlah tempat Soekarno dan Muhammad Hatta disembunyikan saat mereka “diculik” oleh sekelompok pemuda dalam Peristiwa Rengasdengklok, sehari menjelang proklamasi kemerdekaan. 

Setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu, golongan muda yang antara lain diwakili Chaerul Saleh, Sukarni dan Wikana, mendesak para pemimpin pejuang agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua yang diwakili Soekarno, Hatta dan Ahmad Soebardjo, menginginkan persiapan yang lebih matang untuk menghindari kekacauan dan bentrok bersenjata setelah proklamasi kemerdekaan.

Dini hari tanggal 16 Agustus 1945, sekelompok pemuda menjemput Bung Karno dan Bung Hatta dari kediamannya untuk dibawa ke Rengasdengklok. Alasan mereka, tokoh penting itu harus dijauhkan dari pengaruh Jepang supaya proklamasi bisa segera terwujud dan murni hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri. Istri Bung Karno, Fatmawati, beserta putra mereka Guruh yang saat itu masih berusia 9 bulan, turut dibawa dalam peristiwa tersebut.

Rengasdengkok dipilih sebagai lokasi “pengasingan” karena letaknya cukup terpencil, sehingga pergerakan tentara Jepang dari Jakarta, Bandung serta wilayah sekitarnya bisa dengan mudah dideteksi para pejuang. 

Setelah tiba di Rengasdengklok, awalnya Bung Karno dan Bung Hatta ditempatkan di markas tentara PETA setempat. Namun karena dikhawatirkan bisa memancing kecurigaan tentang Jepang, akhirnya mereka dipindahkan ke rumah Tjiauw Kie Siong, seorang petani dan peternak keturunan Tionghoa yang oleh warga setempat biasa dipanggil Babah Kisong.

Nama Tjiauw Kie Siong sendiri hampir tidak pernah disebut dalam buku sejarah. Meski begitu, ia telah berwasiat kepada anak cucunya supaya memelihara rumah peninggalan keluarga mereka yang pernah ditempati sang proklamator. Tjiauw Kie Siong telah wafat pada tahun 1964, dan sampai hari ini wasiatnya masih dilaksanakan oleh keturunannya.

Lokasi asli rumah Tjiauw Kie Siong sebenarnya berada di pinggir Sungai Citarum yang berjarak sekitar 200 meter dari letaknya yang sekarang. Pada tahun 1957, rumah ini terpaksa harus dipindah demi menghindari erosi Sungai Citarum.

Ketika melangkah masuk ke ruang tamu rumah bersejarah ini, kita akan melihat sebuah meja altar yang dihiasi potret tua Tjiauw Kie Siong. Di meja ini juga bisa dilihat potret keluarga Bung Karno serta foto-foto lama milik keluarga Tjiauw Kie Siong. Di sudut lainnya, ada sebuah lemari bufet antik yang menyimpan berbagai plakat kenang-kenangan dari anggota organisasi yang pernah mengunjungi rumah itu.
Ada dua buah bilik yang mengapit ruang tamu ini. (Hairun Fahrudin)
Ada dua buah bilik yang mengapit ruang tamu ini. Bilik di sebelah kanan pernah ditempati Bung Karno, dan satunya lagi ditempati oleh Bung Hatta. Konon, bilik Bung Karno sering digunakan paranormal untuk bermeditasi. Namun perabot di dalam bilik Bung Karno ini hanya replika saja, sebab yang asli sudah menjadi koleksi Museum Sri Baduga, Bandung. Sedangkan perabotan di bilik Bung Hatta semuanya masih asli.
Konon, bilik Bung Karno sering digunakan paranormal untuk bermeditasi. (Hairun Fahrudin)
Rumah Tjiauw Kie Siong belum berstatus sebagai museum dan masih digunakan oleh keturunannya sebagai tempat tinggal. Menurut Pak Yanto, cucu Djiauw Kie Siong yang sekarang menempati rumah warisan keluarganya tersebut, biaya perawatan rumah mereka ditanggung keluarga sendiri. Meski tidak mendapat bantuan pemerintah, keluarga Djiauw Kie Siong selalu ramah menerima siapa pun yang tertarik dengan sejarah rumah mereka, dan dengan setia menjawab semua pertanyaan pengunjung. 

Pemerintah terkesan sangat abai dengan aset bersejarah ini. Jalan sempit di muka rumah Tjiauw Kie Siong tampak sudah berlubang-lubang dan tak ada papan petunjuk apa pun yang menerangkan lokasinya. Sejatinya, jika dikelola dengan baik, rumah ini bisa menjadi objek wisata sejarah yang sangat menarik.
Jalan sempit di muka rumah Tjiauw Kie Siong tampak sudah berlubang-lubang. (Hairun Fahrudin)

sumber

Read more »

Kamis, 19 Juli 2012

Indonesia Mengalami Amnesia Sejarah


Bangsa Indonesia saat ini mengalami amnesia sejarah. Indikasi itu terlihat dari banyak penerus rezim pemerintahan di era Orde Baru yang waktu itu melakukan korupsi dan menjadi musuh masyarakat namun dipilih lagi untuk menjadi pemimpin. Demikian dikatakan sosiolog dari Universitas Indonesia Thamrin Amal Tomagola.
Menurut Thamrin golongan yang amnesia adalah kelas menengah. Masyarakat kelas atas dari zaman dulu tidak pernah memikirkan masyarakat kecil, sedangkan masyarakat kecil selalu mendapatkan penderitaan. Sedangkan masyarakat menengah yang selalu meneriakan perubahan dengan bekal yang cukup kuat tetapi selalu mengulangi kesalahan serupa.
"Bangsa ini mengalami amnesia sejarah, dan mereka yang mengaalami amnesia sejarah adalah kelas menengah. Kalau kelas atas itu dia tidak memikirkan yang lain dan kelas bawah itu selalu merasakan susah," kata Thamrin saat mengisi diskusi publik kelompok kerja Petisi Lima Puluh dengan tema "Bangkitnya Golkar dan Partai-Partai Neo-Orba".
Lebih jauh Thamrin mengatakan tiap masyarakat di kota-kota besar mengalami kegelisahaan yang berbeda. Setiap kelas dalam masyarakat punya kegelisahaannya masing-masing. "Masyarakat kelas menengah selalu mengkhawatirkan kemacetan, kelas bawah  mengkhawatirkan banjir dan kelas atas selalu menghkawatirkan soal keamanan," tuturnya.
Untuk menghilangkan amnesia sejarah maka sudah saatnya masyarakat Indonesia khususnya kelas menengah tidak lagi terjebak atas janji-janji dari para calon pemimpin khususnya Jakarta yang sedang dalam proses pilkada. "Di Jakarta itu masalahnya ada tiga yaitu macet, banjir dan keamanan. Itu yang harus diselesikan oleh gubernurnya yang baru nanti, dan jangan sampai mengulang amnesia sejarah lagi," pungkasnya.

sumber

Read more »

Rabu, 18 Juli 2012

72 Tengkorak Manusia Ditemukan di Istana Xanana Gusmao

Polisi Timor Leste, yang menemukan sebuah kuburan massal di istana perdana menteri bulan lalu, mengatakan, mereka menemukan tulang belulang dari 72 jenazah dan tanda-tandanya menunjukkan mereka warga keturunan China.

Bulan lalu, pekerja bangunan menemukan kerangka 52 orang di taman di luar istana PM Xanana Gusmao yang terletak di tepi pantai di Dili itu. Mereka langsung menghubungi kepolisian.

"Kami menemukan tulang belulang baru, Senin lalu. Jadi, kini ada 72 kerangka," kata Komandan Penyelidik Kejahatan, Calisto Conzaga, kepada AFP.

"Ada benda-benda lain yang ikut dikubur, seperti gelas minum, sendok, dan piring. Jadi, kami memerlukan arkeologi untuk membantu kami mengidentifikasi. Namun, berdasarkan pengamatan, tampaknya piring dan gelas-gelas itu berasal dari China."

Gonzaga mengatakan, dia menduga tulang-tulang itu berasal dari masa sebelum pendudukan Indonesia pada 1975. Kemungkinan dari era Perang Dunia II, katanya. Di situ tidak ditemukan sepatu militer, jadi kemungkinan para korban adalah warga sipil.

Pada Perang Dunia II, Timor Leste diduduki oleh Jepang.

Gonzaga berharap bisa bekerja sama dengan tim forensik internasional, yakni pakar dari Australia, Malaysia, Korea, dan Thailand, untuk menyelidiki misteri itu.

Sebelumnya Damien Kingsbury, seorang pakar Timor Leste dari Universitas Deakin Australia, mengatakan, jika kerangka itu bukan orang Timor Leste, mereka kemungkinan orang China yang berada di Timor Leste sebelum pendudukan Indonesia.

Kata Kingsbury, tentara Indonesia tidak mungkin mengubur orangnya sendiri dalam sebuah kuburan massal, sementara kerangka-kerangka itu bukan milik orang Portugis.

Read more »

Inilah Mafia Paling Berbahaya Sepanjang Masa "Gangster Squad"

Brooklyn kelahiran massa raja Mickey Cohen (Sean Penn) menjalankan pertunjukan di kota ini, menuai haram keuntungan yang diperoleh dari obat-obatan, senjata, para pelacur dan jika ia memiliki cara setiap taruhan nyawa ditempatkan di Chicago. Dan ia melakukan itu semua tidak sendiri ia membayar preman-preman yang ada, Polisi pun berkerjasama dengannya.

Begitulah, kesimpulan cerita tersebut dari film Warner Bros "Gangster Squad" yang akan dirilis September 2012 ini.

Di bawah arahan Ruben Fleischer ("Zombieland"), "Gangster Squad" adalah menceritakan kembali warna-warni peristiwa seputar upaya LAPD untuk mengambil kembali kota mereka yang baru lahir dari salah satu bos mafia paling berbahaya sepanjang masa.

Film ini dibintangi nominator Oscar, Josh Brolin ("Milk", "True Grit") dan Ryan Gosling ("Half Nelson," "Blue Valentine") sebagai yang LAPD. John O'Mara dan Jerry Wooters, Sean Penn ("Milk", "Mystic River") sebagai kehidupan nyata mafia Mickey Cohen, dan Emma Stone sebagai Rahmat Faraday, Cohen perempuan jalang dan obyek perhatian Wooters .

"Gangster Squad" didistribusikan Warner Bros Pictures, Warner Bros Entertainment Company, dan wilayah yang dipilih adalah Village Roadshown.

sumber

Read more »

Selasa, 17 Juli 2012

Menguak Fenomena Rambut Gimbal di Dieng

Secara etimologis, Dieng berasal dari dua kata dalam Bahasa Kawi. "Di" yang berarti pegunungan atau tempat, dan "hyang" berarti dewa. Maka, tidaklah heran jika Dieng merupakan satu areal tersakral di Jawa. Dataran tinggi yang terbelah di antara Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah, ini bisa dikatakan tempat bersemayamnya dewa-dewi.Masyarakat yang mendiami kawah raksasa gunung purba dengan ketinggian lebih dari dua ribu meter di atas permukaan laut ini masih memegang teguh tradisi nenek moyang. Terlepas dari semua itu, Dieng memiliki banyak keunikan. Satu di antaranya adalah fenomena anak berambut gembel atau gimbal. Cerita rakyat setempat menyebutkan, anak gimbal adalah titipan Nyi Roro Kidul, penguasa Laut Selatan. Sementara cerita lain meyakini anak-anak tersebut merupakan titisan Ki Ageng Kolo Dete dan Nini Ronce Kolo Prenye--sepasang leluhur pendiri perkampungan Dieng.
Fenomena anak berambut gimbal di Dieng bukan disebabkan faktor genetik atau turun-temurun. Mereka terlahir normal. Tak ada yang bisa memprediksi kapan dan anak siapa yang mendapat anugerah itu. Hanya saja, mereka punya kesamaan. Sebelum rambut terpilin tak terurus, anak gimbal menderita demam tinggi disertai kejang dan mengigau. Dari sisi medis, fenomena ini sulit dijelaskan.
Keseharian anak berambut gimbal di Dieng tak jauh berbeda dengan anak kebanyakan. Namun, mereka cenderung lebih aktif, agak nakal, dan sedikit keras kepala. Mereka kerap menyendiri. Kepercayaan setempat meyakini anak itu tengah bercengkerama dengan mahluk gaib yang menyertainya. Tapi, tak selamanya rambut gimbal itu memahkotai mereka. Ada ritual pemotongan yang harus dilakukan. Sebab, ada kepercayaan jika dibiarkan hingga remaja maka akan membawa musibah bagi si anak dan keluarganya.
Upacara ruwatan pemotongan rambut gimbal di Dieng Kulon dipimpin pemangku adat Mbah Naryono. Sebelum prosesi dilangsungkan, si mbah dan sesepuh desa melakukan ritual napak tilas. Ritual berupa doa digelar di beberapa tempat sakral agar ruwatan berjalan lancar. Candi Dwarawati, Kompleks Candi Arjuna, Sendang Maerokoco, Kompleks Pertapaan Mandalasari di Telaga Warna, dan Kawah Sikidang merupakan tempat-tempat yang disambangi.
Saat hajatan ruwatan pencukuran dimulai, sesepuh desa mempersiapkan berbagai sesajian dibantu warga desa. Sajen itu antara lain nasi tumpeng tujuh macam dan tak lupa gunungan hasil bumi warga sekitar Dieng. Anak-anak berambut gimbal mengenakan ikat kepala kain putih, pertanda niat suci agar berkah dan rezeki bakal datang setelah rambut gimbal dipotong.
Arak-arakan mengelilingi kampung disertai dengan kesenian tradisional berupa musik tek-tek bambu asri, barongsai, dan rampakyakso, agar seluruh desa mendapat berkah. Anak berambut gimbal satu per satu memasuki Sendang Maerokoco dengan dinaungi payung robyong. Sumber mata air kuno di kompleks percandian itu pun dibatasi kain kafan putih yang bermakna batas suci.
Setelah prosesi penjamasan, rambut si anak dicuci. Mereka diarak ke depan Candi Arjuna, tempat prosesi pencukuran dilaksanakan. Tokoh masyarakat yang didampingi sesepuh desa mengambil peran memangkas. Pemotongan rambut diyakini mengusir mahluk gaib keluar dari tubuh si anak. Selanjutnya, setelah benda permintaan diserahkan kepada si anak, rambut yang telah dipotong dan sejumlah sesajen dilarung. Lokasinya di Telaga Warna yang mengalir ke Sungai Serayu.
Sungai Serayu berhilir ke Pantai Selatan atau Samudera Hindia. Pelarungan ini menyimbolkan pengembalian rambut titipan tersebut kepada Nyi Roro Kidul agar bala atau kesialan berganti menjadi rezeki.

sumber

Read more »