Istilah
stand-up comedy barangkali masih kurang akrab di telinga masyarakat Indonesia. Padahal salah satu bentuk seni komedi ini sudah dikenal di Amerika dan Eropa sejak abad ke-18.
Jerry Seinfeld yang populer lewat serial 'Seinfeld' adalah salah seorang contoh
comic (komedian
stand-up) yang cukup terkenal di AS. Di Indonesia, orang mengenal
stand-up comedy lewat Dono, Kasino, dan Indro.
Stand-up comedy kembali terdengar gaungnya pada tahun lalu, ketika beberapa stasiun televisi swasta membuat tayangan
stand-up comedy. Tayangan tersebut akhirnya melahirkan sejumlah
comic baru. Mereka di antaranya Raditya Dika, Pandji Pragiwaksono, dan Soleh Solihun.
Nama yang terakhir disebut tentunya tak asing lagi bagi para pecinta tayangan s
tand-up comedy. Meski minim ekspresi, Soleh sukses mengocok perut para penontonnya.
Vivanews berkesempatan mewawancarai pria kelahiran Bandung, 2 Juni 1979. Berikut petikan wawancara dengan alumnus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran jurusan Jurnalistik ini.
Bisa dijelaskan apa yang dimaksud dengan stand-up comedy?
Si
comic itu tampil membawakan pengamatan terhadap sesuatu, disajikan dalam bentuk monolog dan komedi, intinya itu.
Bagaimana perkembangan stand-up comedy di Indonesia?
Dari bulan Juli tahun lalu meningkat pesat. Menggembirakan perkembangannya, dari yang tadinya cuma komunitas saja. Sebelumnya sih sudah ada
stand-up comedy, cuma belum memasyarakat saja. Gara-gara Raditya Dika dan Pandji kan di Twitter.
Jadi semenjak 13 Juli 2011 itu pertama kali
stand-up Indonesia berdiri. Mereka bikin acara di Comedy Cafe.
Nah dari situ perkembangannya meningkat, yang menikmati
stand-up comedy nggak hanya orang tertentu, tapi juga masyarakat luas.
Stand-up comedy sudah ada Amerika dan Eropa sejak lama. Apakah bisa dikatakan Indonesia agak telat?
Kalau telat sebenarnya
nggak ada istilah terlambat. Dari dahulu juga sebenarnya sudah ada cikal bakal
stand-up comedy. Ada katanya pelawak Yogyakarta, gaya dia memang sudah
stand-up comedy, cuma
kan belum ada yang memakai istilah itu. Iwel juga dari tahun 1990-an memulai
stand-up comedy di televisi.
Jadi sudah ada dari dahulu. Cuma sekarang karena ada anak-anak muda itu dan karena ada media sosial, seperti
You Tube. Ada juga Jakarta Comedy Club. Sebelum komunitas ini muncul, mereka sudah mempraktikan
stand-up ini. Cuma kita saja tak tahu karena masih di kalangan terbatas. Baru karena dua televisi itu saja (MetroTV dan KompasTV) yang baru berani mengeluarkan ide itu. Kalau dibilang terlambat
nggak juga,
ya mungkin sekarang saja saatnya.
Bagaimana soal tanggapan masyarakat Indonesia yang masih sensitif menerima lawakan seperti stand-up comedy?
Ya wajar
sih. Pertama, ini
kan orang-orang baru kenal gaya komedi seperti ini. Jadi belum terbiasa. Kedua, orang Indonesia memang terlalu sensitif. Maksudnya terlalu memikirkan perasaan seseorang.
Ya harusnya santai saja sih. Intinya memang belum terbiasa.
Tapi di luar negeri pun
stand-up comedy menimbulkan orang
nggak suka. Kayak tahun 1960-an pernah ada yang dituntut ke pengadilan gara-gara s
tand-up-nya. Cuma karena di Amerika sudah mengerti.
Nah ini
kan orang belum mengerti maksudnya karena sudah terbiasa lihat lawak yang
nggak kasih opini
.
Kalau
stand-up comedy kan mengeluarkan
statement. Yang namanya orang mengeluarkan opini pasti ada yang
nggak suka, pasti pro dan kontra selalu ada. Ada beberapa hal yang
oke nggak usah dibahas atau jangan terlalu
to the point. Intinya karena menyangkut opini, jadi pasti ada pro kontra.
Bagaimana awal mula menjadi seorang comic?
Awalnya gara-gara jadi MC sebelum jadi
comic, dari tahun 2000-an. Terus tahun 2010 ada salah satu radio anak muda di Jakarta bilang '
Eh elo kayaknya bisa
nih ikut
stand-up di
event off air radio kita'. Jadi mereka ada tiga band, di sela-sela band itu ada
stand-up comedy.
Nah dari tahun 2010 itu September atau Oktober, lagi
stand-up minta direkamin sama teman dan dimasukkan ke You Tube. Jadi waktu komunitas
stand-up berdiri mereka tahu saya pernah
stand-up sebelumnya.
Belajar jadi comic dari siapa?
Saya
nggak pernah belajar. Karena sering ngomong di depan umum saja kali ya. Di kampus sering jadi MC.
Ya nggak tahu, akhirnya begitu saja.
Nggak pernah belajar teori.
Kan yang lain pada belajar teori, saya
nggak tahu teorinya bagaimana. Yang penting tujuannya buat orang ketawa. Bagaimana ketika ngomong itu bikin ketawa. Itu saja.
Apa saja yang dipersiapkan sebelum melakukan stand-up comedy?
Ya paling memikirkan saja mau
ngomong apa, saya ingat-ingat. Saya catat poin-poinnya. Nanti pas di atas panggung
ya sudah
diomongin saja.
Tanggapan orang-orang terhadap penampilan Anda di atas panggung?
Selama ini orang-orang banyak yang suka. Salah satu indikatornya
kan karena sering dipanggil, dapat
job. Jadi
alhamdulillah bagus.
Follower saya juga bertambah.
Pernah ada pengalaman kurang menyenangkan saat tampil di atas panggung. Misalnya penonton tidak tertawa?
Kalau saya situasi
nggak enak lebih ke teknis. Misalnya mikrofonnya
nggak enak, volumenya
nggak kenceng. Jadi kalau ngomong capek, ketarik-tarik urat. Atau kalau penonton jauh,
nggak kelihatan muka penontonnya itu pasti
nggak bagus penampilannya. Kalau saya asal penonton dekat, bisa melihat muka penonton dan mikrofon nyaman, saya
nggak perlu teriak-teriak,
ya pasti penampilan bagus.
Kabarnya Raditya Dika beberapa menit stand-up dibayar mahal. Anda sendiri bagaimana. Apakah pekerjaan sebagai comic cukup menjanjikan?
Kalau dari saya
alhamdulillah. Saya
stand-up 15 menit sudah lebih besar sedikit dari gaji sebulan waktu di majalah..hahaha...
Ya pokoknya menjanjikan.
Pernah menganggap diri sendiri lucu?
Lumayan
ya..hahaha..Buktinya kalau orang lihat saya
stand-up atau ngobrol mereka ketawa,
ya berarti lucu. Memang saya minim ekspresi, ngomong nadanya datar, mukanya datar
nggak ekspresif. Tapi yang penting orang ketawa.
Ada comic favorit di Indonesia atau luar negeri?
Saya bukan pemerhati
stand-up comedy. Cuma karena sering di panggung, banyak orang yang suka,
ya jalani saja. Pekerjaannya enak
kok, bikin orang ketawa, dibayar gede.
Paling kalau ditelusuri keinginan saya untuk melucu itu karena Zainuddin MZ. Waktu SD, bapak saya suka beli kaset Zainuddin MZ.
Nah saya suka ketawa mendengarnya. Saya terhibur dengan gaya beliau. Ceramahnya
sih nggak ada yang ingat, cuma dia itu orangnya lucu. Waktu itu saya mengidolakan Zainuddin MZ.
Ya makanya sempat ingin jadi ustad gara-gara Zainuddin MZ.
Pesan bagi comic lain agar bisa menjadi stand-up comedian yang hebat?
Harus punya ciri, karakter. Jangan jadi yang biasa-biasa saja. Minimal orang jadi langsung terbayang karakternya seperti apa. Makanya si Mongol itu cepat naik, karena dia yang satu-satunya seperti itu di antara
comic-comic yang lain. Secara muka pun sudah lucu dan berkarakter.
sumber