banner ads banner ads banner ads banner ads
Tampilkan postingan dengan label Wong Pati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wong Pati. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Juli 2015

Demo Tolak Pabrik Semen Berlangsung Ricuh

Omah Berita - Kemarin, Kamis 23 Juli 2015 Pati dikejutkan oleh aksi demonstrasi penolakan pembangunan pabrik semen di wilayah Pati selatan yang meliputi wilayah Sukolilo, Tambakromo dan Kayen. Aksi protes dilakukan dengan cara memblokir akses Pantura Pati - Kudus di Margorejo. Akses dari Kudus menuju Pati lumpuh total,begitu pula jalur sebaliknya dari Pati menuju Kudus.

Ada beberapa titik digunakan untuk membakar ban dan kayu. Pos pengaman mudik lebaran di PT Dua Kelinci pun tak lepas dari amuk massa. Beberapa orang diketahui mengalami patah tulang akibat bentrok dengan aparat. Tak luput salah seorang pendemo yang ditangkap dan dibawa ke polres patir yang dianggap sebagai provokator kericuhan, meskipun sore harinya dilepaskan.

Mereka menolak pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng dan menuntut Bupati Pati Haryanto untuk hadir dilokasi demonstrasi dan meminta untuk mencabut ijin pembangunan pabrik disana.

Sejak sekitar pukul 10:00 WIB sudah terlihat rombongan demonstran yang kebanyakan naik truk. Sekitar hampir 50 truk dan ribuan pendemo memblokir akses jalan pantura di persimpangan sebelah timur PT Kelinci yang merupakan jalur akses vital yang menjadi pintu masuk menuju kota Pati dan jalur lingkar selatan. Meskipun pada sore hari sekitar pukul 16.00 WIB pendemo mulai membubarkan diri tapi kemacetan tak terhindarkan.





Read more »

Sabtu, 10 Maret 2012

Soto Kemiri Pati

Salah satu makanan khas dari Kabupaten Pati selain nasi gandul, adalah Soto Kemiri. Seperti soto dari daerah lain yang lebih dahulu dikenal masyarakat seperti Soto Kudus, Soto Kemiri juga menggunakan daging ayam (soto ayam). Makanan khas ini membutuhkan bumbu brambang (bawang merah), bawang putih, kencur, kemiri, lengkuas, jinten, merica, jahe, dan santan. Soto kemiri biasa disajikan tanpa penyedap makanan. Cara memasak soto kemiri pun tidak sulit, cukup menggunakan kuali dari bahan tanah liat serta dipanaskan dengan bahan bakar kayu. Salah satu cara menengarai soto khas Pati ini adalah aroma kemirinya yang lebih menonjol dan kuahnya lebih encer dibanding soto dari daerah lain.

Cara penyajiannya pun unik, yaitu setelah mangkuk yang telah berisi nasi, irisan daging ayam, dan taoge lalu diberi kuah setelah itu kuah dari mangkuk tadi dituang kembali kedalam kuali, demikian diulangi beberapa kali sehingga rasa gurih bisa sangat terasa. Karena cara penyajian seperti ini Soto Kemiri juga dikenal sebagai Soto Kopyok. Lauk yang disajikan sebagai pelengkap sama seperti kebanyakan soto-soto ayam yang lain tapi yang membedakan adalah ukurannya, karena ayam yang digunakan adalah ayam dere maka ukurannya pun kecil-kecil sehingga kalo tidak terkontrol bisa menghabiskan sepiring lauk.

RESEP SOTO KEMIRI
Bahan:
  • 1 ekor ayam kampung
  • 1.500 ml air
  • 2 lembar daun salam
  • 100 gram taoge, diseduh
  • 2 tangkai daun seledri, iris halus
  • 3 sendok bawang goreng, untuk menyajikan
Bumbu Halus:
  • 4 butir bawang merah
  • 2 siung bawang putih
  • 2 butir kemiri
  • 2 cm kunyit
  • 1 cm kencur
  • 1 1/2 sendok teh garam
Cara Membuat :
  • Rebus ayam dalam air dan daun salam sampai matang.
  • Campur kaldu bersama bumbu halus sambil diaduk hingga bumbu meresap.
  • Angkat ayam lalu suwir-suwir.
  • Masukkan taoge, ayam suwir dalam mangkuk seduh dengan kaldu panas, lakukan 2 kali.
  • Siram lagi dengan kaldu lalu sajikan dengan taburan daun seledri dan bawang goreng.
Ukuran porsi: 6 orang


"dari berbagai sumber"

Read more »

Asal Mula Nasi Gandul Pati

Kota Pati tentu identik dan lekat dengan nasi gandul, masakan khas dari kota Pantura ini. Sebenarnya, tak hanya nasi gandul yang melegenda dari kota asal Si Roro Mendut ini. Ada soto kemiri (asalnya dari Desa Kemiri) dan gethuk runting (asalnya dari Desa Runting). Namun, yang paling kesohor yah memang nasi gandul ini. Nasi ini berdiaspora hingga ke Yogyakarta dan Jakarta. Menu ini direkomendasikan Bondan Winarno, wartawan kuliner tenar.
Oh yah. Kalau hendak berburu nasi gandul genuine, silakan menelisik Desa Gajahmati, yang terletak di sebelah selatan Terminal Bus Pati. Adalah Almarhum Pak Melet, yang hingga kini dipercaya sebagai orang yang memopulerkan nasi gandul ini. Memang, Pak Melet sendiri bukanlah pedagang pertama nasi gandul. Awalnya, di tahun 1950-1960-an, para penjaja nasi gandul berjalan kaki sambil menggotong pikulan yang berisi kendil (kuali) kuah gandul di satu sisi, dan bakul nasi di sisi lainnya. Lambat laun, para pedagang lebih memilih menetap dengan membuka sebuah warung atau memanfaatkan ruang depan rumahnya untuk berjualan.
Nah, pola jualan yang sebelumnya ideran (mengedarkan dengan jalan kaki berkeliling) dan berubah menjadi buka warung ini, nampaknya sebangun juga dengan sejarah warung bubur kacang ijo (burjo). Burjo kini menjadi santapan wajib para pelajar dan mahasiswa yang hidup di rantau dengan ngekos atau menjadi kontraktor –maksudnya masih tinggal di rumah kontrakan, hehehe… Jika burjo terkenal di kota-kota pelajar seperti Yogyakarta, Malang, Surabaya, Bandung, Jakarta, dan lain-lain, nah hanya nasi gandul yang mengecambah di Pati.
Mungkin menarik jika kita bisa menelus seluk-beluk dan perkembangan masakan khas lainnya. Dan bukan mustahil, bisa kita tuangkan ke dalam tulisan tersendiri. Kembali ke nasi gandul. Karena awalnya digotong dengan pikulan itulah, dia disebut nasi gandul. Gandul sendiri artinya menggantung. Pikulan itu naik-turun seiring dengan langkah si penjaja.
Kini hampir tidak kita jumpai penjaja nasi gandul yang ideran. Mereka lebih memilih jualan stationaire di warungnya. Tapi, uniknya, pikulan tersebut tetap dipakai di depan meja utama. Kayak apa sih nasi gandul itu? Nasi ini, sekilas seperti rawon. Kuahnya coklat kemerahan. Gandul asli yang dijajakan di Pati disajikan di atas piring bulat. Di atas piring terdapat sebuah potongan daun pisang sebagai alas. Jenis pisangnya adalah pisang kluthuk (pisang biji). Hal ini agar memberikan aroma nan segar terhadap kuah. Di dalam kuahnya terdapat thethelan (potongan) daging dan gajih (lemak) sapi. Jangan kuatir! Saat ini, para pedagang nasi gandul memodifikasi kuah nan bersantan ini hanya dengan daging, zonder lemak. Jadi, nasi gandul nampaknya tetap aman dinikmati oleh pengidap kolesterol.
Setelah nasi putih diguyur kuah beserta beberapa potong thethelan, rasanya kok ada yang kurang. Nah, Anda bisa menambahkan lauk. Uniknya, lauk ini berasal dari semua organ sapi. Ada otak, lidah, daging, paru, jantung, usus, babat buku, babat handuk, babat jala, kikil, kulit, dan lain sebagainya. Jika Anda sedang menghindari makanan hewani, nah, ini dia! Silakan lengkapi nasi gandul dengan sebuah perkedel atau tempe goreng. Tempe goreng ini unik. Si tempe begitu garing dan krispi sewaktu digigit. Ternyata, rahasianya, tempe direbus dulu dengan santan sebelum digoreng. Tentu ini agak berbeda dengan nasi gandul yang dijual di kota lain. Meski si empu warung (setidaknya mengaku) dari Pati, nasi gandulnya sudah disesuaikan sana-sini. Misalnya, di Jakarta, lauknya sudah terpotong-potong ke dalam kuah. Kita tak perlu memesan lauk yang tersendiri. Pernah saya menikmati nasi gandul di Yogyakarta. Potongan lauknya lebih kecil. Dalam seporsi, kita bisa memilih dua jenis lauk itu. Bisa daging (empal) dan usus, empal-kikil, dan lain-lain. Apapun modifikasinya, baik Pati asli maupun sesuaian, tetap nikmat kok.
Nah, karena nasi gandul ini disajikan dengan alas piring daun pisang, kuah dan nasi tak menyentuh dasar piring atau seakan menggantung. Karena itulah, nasi ini disebut nasi gandul. Versi ini sekaligus melengkapi versi pertama. Argumentasinya, jika nasi gandul diedarkan dengan pikulan, burjo dulunya juga dipikul. Minuman dawet, yang sudah ada sejak zaman sebelum Kerajaan Demak, pun dipikul. Nasi soto dulunya juga dijual dengan dipikul. Kenapa hanya nasi ini yang disebut nasi gandul? Jenis makanan lainnya, yang dijual ideran dengan pikulan kok tidak dinamakan gandul? Dus, sendoknya terbuat dari daun pisang juga. Namanya suru. Sebagian ada yang bilang nyuru, nyiru. Bagi yang belum terbiasa memakai sendok daun pisang, tak usah kuatir. Setiap warung kini menyediakan sendok logam.
Eh, ada juga versi dirty joke-nya loh. Sekali lagi ini hanya joke dan kurang bisa dipertanggungjawabkan validitas kesejarahannya. Pada suatu ketika, ada seorang penjual nasi gandul yang memakai sarung. Ketika duduk, terlihat “adiknya” yang gandul-gandul. Oleh para pembeli, mulai saat itu, disebutlah nasi tersebut sebagai nasi gandul. Hehehe… Ah, apapun versinya, yang terang, nasi ini sedap bin lezat nian. Jika Anda menginjak Kabupaten Pati Bumi Mina Tani, jangan lupa berburu nasi gandul. Eit, jangan lupa ditingkahi dengan segores olesan kecap manis. Emmm… nyamleng tenan.


"dari berbagai sumber"

Read more »