banner ads banner ads banner ads banner ads

Sabtu, 14 Juli 2012

Tiga Keluhan Tentang K-pop

Bukan rahasia lagi bahwa saya menyukai K-pop. Saya sudah membicarakan dan menulis blog tentang K-pop selama bertahun-tahun. Saya senang melihat genre ini telah menguasai dunia terlihat dari fenomena Hallyu yang terus berkembang.

Bahkan meskipun saya menyukai genre ini, saya memiliki beberapa keluhan. Berikut adalah tiga keluhan saya, yang saya yakin penggila K-pop juga akan sependapat dengan saya.

Keluhan No.1 Kenapa harus ada extended play, album mini dan edisi spesial?


Industri musik K-pop sudah lama meraup banyak untung dengan merilis extended play (EP) atau album mini dan album khusus repackage.

Bandingkan dengan perilisan Barat di mana album penuh itu wajib, album K-pop biasanya dirilis dalam bentuk EP dengan hanya sekitar empat sampai lima lagu. Yang lebih parah “mini album”, yang berisi hanya dua atau tiga lagu dengan satu lagu adalah hanya versi intrumental. Yang benar saja! Itu bukan sebuah album, itu sebuah single!

Agar lebih adil untuk K-pop, saya harus mengakui bahwa rancangan album mereka lebih menarik daripada album Barat. Namun, album utamanya adalah tentang musik dan saya ingin musik! Membayar harga yang sama untuk sebuah album penuh dan sebuah EP sama sekali tidak adil.

Baru-baru ini, bintang K-pop terkenal, Shinhwa merilis "The Return", album yang menandai kembalinya mereka ke belantika musik. Dalam konferensi pers, mereka menekankan bahwa album tersebut merupakan album penuh. Shinhwa tidak pernah merilis EP sepanjang kariernya. Saya kagum akan komitmen mereka untuk tetap hanya merilis single atau album penuh.

Dan yang paling buruk adalah “edisi spesial”. Tidak peduli seberapa kamu mendukung artis K-pop yang kamu sukai, adalah menyebalkan ketika kamu sudah membeli sebuah album, sang artis merilis sebuah versi “edisi khusus” dengan dua atau tiga lagu tambahan, sebuah desain kemasan album yang diperbarui, dan yang lebih buruk, ada sebuah DVD gratis di dalamnya!

Jika kamu penggemar sejati, kamu pasti akan ingin membeli “edisi khusus”, bahkan setelah membayar uang besar pada album “biasa”. Kini kamu menghadapi sebuah dilema. Maukah kamu membeli sebuah album edisi khusus untuk lagu tambahan dan desain kemasan, atau sudah puas dengan album versi aslinya?

Banyak penggemar K-pop yang berpengalaman yang tidak mengacuhkan hal seperti ini dan menunggu perilisan album edisi khusus. Namun lagi-lagi, jika kamu ingin membantu artis idola untuk merajai tangga lagu, kamu harus membeli album edisi pertama mereka.

Keluhan No.2 Kenapa tidak ada terjemahannya?


Kini K-pop sudah mendunia, bukankah kini sudah saatnya untuk membuat terjemahan bahasa Inggris (atau bahkan Indonesia) yang secara otomatis disertakan dalam album K-pop, DVD, album foto dan sebagainya?

Saya memiliki beberapa album K-pop edisi bahasa Taiwan, dan saya selalu terkejut dan senang karena album tersebut menyertakan kertas lirik dalam bahasa Mandarin.

Saya sangat ingin penerjemahan menjadi bagian wajib dari semua album dan DVD K-pop!

Penerjemahan tidak hanya meningkatkan antusiasme para penggemar pada musik atau film namun terjemahan tersebut juga menghargai para penggemar yang mendukung artis idola mereka.

Mewakili para penggemar di manapun, dapatkah produser K-pop melakukan hal ini untuk kami, berapa biayanya untuk menggaji penerjemah resmi dibandingkan pendapatan yang dihasilkan dari penjualan album?


Keluhan No.3 Kenapa sangat idol-sentris?


Industri K-pop menjadi sangat “memuja-muja idola” karena idola tersebut tampil hampir di setiap hal. Para idola tersebut biasanya bintang muda yang mengawali karier sebagai penyanyi dari girl/boyband.

Sekarang, para idola tersebut tampil di drama, acara televisi, iklan, dan film, termasuk iklan produk konsumen seperti kipas angin, kaus kaki, alat tulis...dan masih banyak lagi. Batas pemisah antara beberapa kategori penghibur kini sudah tidak jelas dalam dunia K-pop.

Tidak masalah untuk mempekerjakan idola tersebut dalam berbagai bidang. Maksudku, siapa yang tidak menghargai idola yang serba bisa? Namun, ketika kesempatan pekerjaan “terlalu memuja idola,” para penggemar akhirnya akan melihat yang itu-itu lagi.

“Terlalu memuja-muja idola” juga membatasi para idola itu sendiri. Banyak idola yang merasa tertekan untuk terus menjaga citra baik mereka. Oleh karena itu mereka menjadi begitu dibuat-buat ketika konferensi pers dan saat tampil di depan publik. Mereka terlalu terikat dengan pemikiran tersebut sehingga sering kali, mereka terlihat dan terdengar sama dengan yang lainnya!

Melepaskan citra idola adalah suatu hal yang sering ingin dilakukan oleh para idola. Mereka juga menunggu waktu di mana mereka dapat menjadi diri mereka sendiri di depan kamera. Bintang Hallyu, Kim Hyun Joong, secara terbuka mengatakan bahwa dia ingin melepaskan citra idolanya sebagai seorang bintang solo. 

Apakah Anda tahu bintang idola lain yang ingin melepaskan citra “idola” mereka?


sumber

0 komentar:

Posting Komentar